Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati


Lempar.id-Sumatera Barat - Di Solok Selatan, hutan lindung tak lagi sekadar kawasan konservasi. Ia menjelma ladang emas terbuka dengan ekskavator bekerja siang dan malam seperti proyek negara. Tanah dikoyak, sungai dikeruhkan, tebing diruntuhkan. Tak ada garis polisi, tak ada penyegelan. Yang terdengar justru satu kalimat pendek yang konon menjadi jimat keselamatan: “Aman semua, bos sudah berkoordinasi.”


Kalimat itu, menurut sumber terpercaya  di lapangan, bukan sekadar penghibur. Ia adalah sandi kekuasaan, penanda bahwa ada jejaring tak kasatmata yang mengawal operasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Dugaan aliran uang disebut mengalir tak hanya ke pemain lapangan. Bahkan diduga sejumlah LSM dan pekerja media ikut dituding menerima “saweran”, membuat kritik melempem sebelum sempat mengeras.


Nama Bupati Solok Selatan, H. Khairunas, ikut terseret dalam pusaran tudingan. Ketua LPMRI Sumatera Barat, Sultan Hendy, menyebut ada dugaan kepemilikan sekitar 40 unit ekskavator yang beroperasi di kawasan hutan lindung. Ia juga melontarkan inisial anggota DPRD inisial NK, IP, ISP yang disebut ikut bermain, " Ucap Hendy. 


Ia menegaskan  Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) bentukan Presiden Prabowo Subianto. Di atas kertas, satgas ini dibentuk untuk menyapu bersih perusakan hutan. Di lapangan, menurut Hendy, penertiban dinilai tebang pilih. “Kalau berani, jangan hanya tangkap yang kecil. Teropong juga yang besar,” katanya. Ia mengaku telah mengirim pesan kepada aparat dan satgas, namun respons yang diterima sebatas formalitas.


Solar subsidi disebut menjadi darah bagi mesin-mesin pengeruk itu. Jika distribusinya benar mengalir bebas ke kawasan lindung, maka ini bukan sekadar tambang ilegal—ini dugaan pembiaran sistemik. Dugaan setoran ke oknum aparat pun mencuat. Semua tudingan ini belum terbukti di pengadilan. Namun di tengah kabut dugaan itu, satu fakta kasatmata berdiri: hutan terus tumbang.


Pertanyaan publik kini sederhana dan menohok bagaimana puluhan alat berat bisa bekerja terbuka di kawasan Hutan lindung tanpa tindakan tegas? Apakah negara kalah oleh tambang liar, atau justru bersekutu dalam diam?

Sementara jawaban belum terdengar, suara ekskavator tetap meraung. Dan rimba Solok Selatan terus membayar harga dari sandi yang terlalu sering diucapkan: aman semua.

Baca Juga
Berita Terbaru
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
  • Sandi di amankan,rimbah yg dikhianati
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad